Pengaruh Kualitas Pendidikan Terhadap Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

admin

Oleh : Abdullah Khairul Fattah

Pegiat Wirausaha Sosial dan Pemerhati Pendidikan

Tahun 1945 Ketika Hiroshima dan Nagasaki di Bom Atom oleh Amerika Serikat, Akibat peristiwa bom atom tersebut, barang-barang kebutuhan menjadi langka, inflasi melesat naik, transportasi lumpuh, industri mandek, dan sudah barang tentu perekonomian Jepang berada pada titik nadir. Tidak hanya itu, pada saat yang sama ancaman serangan datang dari Uni Soviet usai dipatahkannya fakta netralitas kedua negara juga tengah membayang-bayangi.

Kondisi Jepang pasca bom atom sungguh sangat memprihatinkan. Sejarah bom atom Hiroshima dan Nagasaki membuat dunia tercengang. Di saat keadaan negara sudah sedemikian hancurnya, bukannya bertanya tentang berapa tantara yang tersisa, kaisar Hirohito justru menanyakan berapa jumlah guru yang tersisa saat pertama kali mendengar negaranya telah luluh lantak oleh bom nuklir yang dijatuhkan tentara Amerika Serikat.

Pada awalnya para jenderal menjawab dengan tegas kepada Kaisar bahwa mereka mampu menyelamatkan dan melindungi Kaisar tanpa bantuan guru. Mereka heran mengapa sang kaisar justru mempertanyakan tentang guru alih-alih kondisi kemiliteran mereka. Kemudian Kaisar Hirohito menjelaskan kepada mereka bahwa Jepang telah jatuh dan hal itu dikarenakan mereka tidak belajar. Jepang memang kuat dari segi persenjataan dan strategi perang. Tapi nyatanya mereka tidak mengetahui bagaimana cara membuat bom yang dahsyat seperti yang telah membumi hanguskan kota Hiroshima dan Nagasaki. Kaisar berpendapat kalau mereka semua tidak dapat belajar,  bagaimana mungkin mereka akan mengejar ketertinggalan mereka dan bangkit lagi dari keadaan ini.

Mendengar hal tersebut, maka akhirnya dikumpulkanlah sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kota. Jumlah guru yang tersisa pada saat itu kurang lebih 45.000 guru saja. Kaisar Hirohito dengan penuh harapan mengatakan kepada seluruh pasukan dan juga rakyat Jepang bahwa kepada gurulah sekarang mereka akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan. Hal ini menunjukkan bahwa betapa bernilainya pendidikan di mata Kaisar. Momen ini pulalah yang menjadi tonggak kebangkitan Jepang sehingga menjadi salah satu negara maju hanya dalam kurun waktu 20 tahunan. Padahal dengan kondisinya yang hancur lebur saat itu, dunia memprediksi paling tidak Jepang membutuhkan waktu kurang lebih 50 tahun untuk dapat bangkit kembali.

Ditahun yang sama momen kemerdekaan bangsa Indonesia belum mampu dimanfaatkan dengan baik oleh generasi muda, akibatnya sampai dengan saat ini kita masih menjadi Negara berkembang padahal banyak sekali faktor yang bisa membuat bangsa ini lebih baik dari pada bangsa lain. Hal ini tentu tidak mengherankan karena pendidikan tidak benar-benar terperhatikan, pergantian menteri pendidikan maka berganti pula kurikulum yang digunakan. Guru tidak mendapatkan konsep yang baku terhadap system kurikulum yang digunakan, perubahan demi perubahan tidak terelakan membuat peserta didik kehilangan haluan dalam mencapai target hasil proses pendidikan. Disisi yang lain, dewasa ini peran orang tua terhadap pentingnya sebuah pendidikan juga berkurang. Ada beberapa hal yang melatar belakangi ini salah satunya adalah ekonomi yang belum memadai. Sehingga lebih senang anaknya langsung bekerja dan dapat uang, pemberian pendidikan yang berkualitas tidak mampu diberikan, pembelian buku untuk meningkatkan literasi dan pengetahuan pun tak mampu diberikan. Namun hal itu tidak dijalankan karena mungkin menganggap kemajuan zaman dengan teknologi saat ini sudah mewakili baca-bacaan yang bisa dicari dengan muda melalui dunia maya. Padahal tidak semua informasi didunia maya bisa dijadikan rujukan dan pegangan dalam berbagai hal. Akibat hal ini maka tidak mengherankan Indonesia mendapatkan rangking 71 dari 77 negara yang memiliki tingkat literasi terendah menurut studi Programme for International Student Assessment ( PISA ) pada 2018 lalu.

Rendahnya kualitas pendidikan mampu mempengaruhi semua hal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Padahal bangsa ini kaya akan adat istiadat, filoshopi hidup yang beragam cerita namun semua itu belum mampu di pahami dengan baik oleh generasi muda. Ada beberapa faktor yang akan terjadi akibat dampak rendahnya kualitas pendidikan, diantaranya :

  1. Memiliki Pandangan Buruk di Masyarakat

Menurut penelitian mengatakan rendahnya tingkat pendidikan menjadi pemicu terjadinya suatu tindak kriminal. Banyaknya kejahatan yang terjadi karena kurangnya pendidikan, menjadikan pandangan masyarakat menjadi buruk terhadap orang-orang yang tidak memiliki pendidikan.

  1. Memiliki Peluang Kerja yang Kecil

Saat ini, hampir secara keseluruhan peluang kerja menjadikan tingkat pendidikan sebagai salah satu syarat pertama untuk mendaftar, hal ini dilakukan karena tingkat pendidikan ternyata cenderung mempengaruhi kreativitas yang bertujuan untuk memberikan kemajuan dari tempat mereka bekerja.

  1. Kehilangan arah hidup

Pendidikan mampu menjadi sebuah pedoman yang bisa kita gunakan dalam kehidupan sehari hari. Apabila seseorang tidak mendapatkan pendidikan yang cukup, akan membuatnya merasa tidak memiliki arah hidup.

  1. Menambah Tingkat Kemiskinan

Orang yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah akan lebih sulit untuk menemukan peluang kerja. Hal ini akan berdampak terhadap tingkat kemiskinan. Semakin banyak warga negara yang tidak peduli akan pendidikan, maka menjadi tinggi pula tingkat kemiskinan pada suatu negara tersebut.

  1. Menghambat Negara Untuk Maju

Dengan rendahnya kualitas suatu pendidikan pada negara, menjadikan negara tersebut susah untuk berkembang. Pendidikan sangat berpengaruh terhadap kualitas penduduk pada suatu negara.

Apabila tingkat pendidikannya tinggi, maka kualitas penduduk tersebut juga tinggi. Namun, jika tingkat pendidikannya rendah, maka kualitas penduduk pada negara tersebut juga rendah. Rendahnya pendidikan pada suatu negara dapat menyebabkan rendahnya kemampuan dalam menguasai teknologi baru, sehingga harus mendatangkan tenaga ahli dari negara maju dan sulitnya masyarakat menerima hal-hal yang baru.

Karenanya tidak mengherankan Rasulullah Muhammad SAW mewajibkan ummatnya untuk menuntut ilmu, ( Menuntut  ilmu itu wajib bagi muslimin dan muslimat, HR. Ibnu Majah no 224 ). Artinya pendidikan itu menjadi hal yang penting yang harus diberikan dan kehausan akan ilmu juga penting untuk membuka wawasan dan memperluas pengetahuan.

Disisi yang lain, Faktor ekonomi juga menjadi kunci dalam kehidupan, rendahnya nilai ekonomi banyak mempengaruhi pendidikan seseorang, rendahnya pendidikan juga mempengaruhi ekonomi sebuah keluarga. Artinya dua hal ini ekonomi dan pendidikan adalah satu kesatuan dalam membangun masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan.

Tinggalkan komentar