IR sholah Athiyah: tidak dikenal tapi meninggalnya di hadiri setengah juta manusia

admin

Abdullah Khairul Fattah

– Social Entrepreneur and Empowerment Activist-

Jika Nabi Muhammad SAW masih sulit kau teladani karena beliau seorang nabi, padahal sudah jelas yang dilakukan bahwa beliau juga manusia biasa, itu terlihat bagaimana beliau pergi dari kejaran kaum Musyrikin, beliau bersembunyi 3 hari di dalam Goa Tsur, Beliau terkena anak panah ketika mengikuti perang Uhud. Jika masih sulit juga engkau teladani maka teladanilah para sahabatnya.

Jika contoh itu masih terlalu jauh untukmu maka ada sebuah kisah yang terjadi di Mesir, kisah ini cocok untukmu sebagai penggerak Wirausaha Sosial dan Aktivis Pemberdayaan. Beliau adalah Ir. Sholah Athiyyah. Meninggalnya beliau dihadiri setengah juta ummat manusia. Amal jariyahnya sungguh sangat luar biasa.

Lahir di kampung kecil bernama Tafahna Al Asyrof, tergabung dalam 9 orang sarjana miskin lulusan Fakultas Pertanian. Akhirnya mereka bersepakat membangun usaha ternak ayam dengan modal seadanya. Sambil mencari mitra yang kesepuluh usahanya semakin lama semakin menampakan hasil yang bagus. Singkat cerita mitra ke sepuluhpun ditemukan, ketika ditanya siapakah mitra ke-10 itu?. Allah Jawabnya. Maka mereka bersepakat bahwa 10 % dari hasilnya adalah untuk Allah dan itu dituliskan dalam perjanjian lengkap dengan jaminan bahwa Allah akan memberikan jaminan perlindungan dan pemeliharaan serta jaminan keamanan dari wabah penyakit

Satu musim berjalan, tidak terduga hasilnya melebihi ekspetasi yang harapkan, hasil jauh melebihi dari yang di inginkan. Lalu mereka pun bersepakat menaikkan jatah keuntungan untuk mitra kesepuluh yaitu Allah dari 10 persen menjadi 20 persen di musim kedua. Lalu terus naik hingga menjadi 50 persen.

Bagaimana keuntungan mitra kesepuluh milik Allah dialokasikan? Dimulai dengan membangun sekolah dasar Islam putra lalu lanjut putri. Kemudian lanjut mendirikan sekolah menengah Islam putra, lalu putri. Kemudian Aliyah putra, lalu putri. Karena keuntungan terus membanjiri akhirnya dibentuklah baitul mal. Mereka pun mengajukan ke pemerintah untuk membangun universitas di kampung. Awalnya, proposal pendirian universitas itu ditolak pemerintah dengan alasan tiadanya akses bagi mahasiswa ke kampung itu. Karenanya mereka bangun universitas lengkap dengan jalur kereta api berikut stasiunnya menuju kampung dengan modal mandiri. Proposalpun disetujui.

Pertama dalam sejarah Mesir, berdirilah sebuah universitas di perkampungan kecil. Mahasiswa pun berdatangan. Kampus terus berkembang hingga kampus itu dilengkapi asrama putri dengan kapasitas 600 kamar dan asrama putra dengan 1000 kamar. Tak berhenti di kampungnya, Ir Sholah Athiyah juga membangun baitul mal di kampung-kampung lain. Hingga kemiskinan hilang dari kampung-kampung itu. Lalu diduplikasi ke kampung lain hingga dikatakan tak ada kampung yang disinggahi Ir Sholah kecuali di bangun baitul mal.

Bantuan juga diberikan kepada fakir miskin dan para janda. Pemuda pengangguran pun dilatih untuk mengelola perkebunan sayur hingga mandiri. Pada saat panen raya, seluruh penduduk dikirimi paket sayur. Pada bulan Ramadhan, diadakan buka bersama untuk seluruh warga desa. Disiapkan pula perabotan untuk gadis-gadis yatim yang ingin menikah. Seiring dengan semakin membesarnya keuntungan bisnis, disepakatilah seluruh keuntungan untuk mitra kesepuluh. 100 persen. Ir Sholah yang awalnya adalah salah satu mitra usaha, berubah menjadi karyawan Allah. Dia hanya menerima gaji, dan kepada Tuhannya ia meminta untuk hatinya selalu hanya tertaut kepada Allah dan hanya meminta kepada-Nya. hingga akhirnya beliau meninggal dan dihadiri setengah juta ummat manusia menyambut jenazahnya, tidak banyak orang paham atas gerakannya namun ketika beliau meninggal dunia terasa berguncang dengan pemberitaan meninggalnya.

Semoga kisah ini menjadi motivasi kita untuk berbuat nyata kepada masyarakat dengan mengharap pertolongan Allah dan keberkahan hidup selama masih diberi kesempatan untuk berkarya.

Tinggalkan komentar