KEARIFAN MINANGKABAU DALAM PERBEDAAN

admin

Oleh : WAHYUDI ASRI.S.Pd

Pergumulan pemikiran dalam berbagai diskursus idiologi dan pemahaman dalam menata kehidupan masyarakat telah terlukis indah dalam sejarah masa lalu orang minang.
Lahirnya Kelarasan Koto Piliang dan Kelarasan Bodi Chaniago awal pembuka perbedaan paradigma dalam melihat dan memberi jawaban terhadap kondisi sosial dimasa itu. Kelarasan Koto Piliang dengan berlandaskan kepada “Titiak dari ateh” atau sebuah konsep aristokrasi, sedangkan kelarasan Bodi Chaniago dengan dasar ” mambasuik dari bumi” atau paham demokrasi.

Perbedaan kedua pandangan idiologi politik ini bagi masyarakat minangkabau diawalnya dibagi dalam dua wilayah teritorial yaitunya wilayah teritorial Sungai Tarab salapan batua yang merupakan wilayah Koto Piliang dan wilayah teritorial Lima kaum duo baleh koto sebagai wilayah kekuasaan kelarasan Bodi Chaniago.
Dalam menyikapi kedua paham idiologi ini, kedua tokoh pemikir tersebut diawalnya memang terjadi konfrontasi yang akan merugikan kehidupan sosial, tetapi karena akal budi lebih diutamakan sebagai alat penyelesainya, maka semua kemelut tersebut mampu diselesaikan hanya dengan menikam sebuah batu. sebagai simbol pelampiasan emosi sesaat.

Kedua paham idiologi ini pada akhirnya mampu bersinergi dan berasimilasi dalam tatanan kehidupan masyarakat minangkabau, karena sewaktu waktu paham aristokrasi perlu digunakan dalam menjawab persoalan keummatan, demikian juga paham demokrasi pada saat yang lain perlu menjadi pilihan dalam menjawab tantangan zaman, pemahaman atau sebuah idiologi yang lahir dari sebuah hasil olah fikir dan kecerdasan akal, akan ditaklukan oleh sebuah kepentingan yang lebih besar, yang di lahirkan dari sebuah kecerdasan emosional didukung oleh kecerdasan spritual.

Minangkabau mampu mempersandingkan kedua paham idiologi tersebut sehingga terbentuklah tatanan masyarakat yang adil dan makmur dengan sendi – sendi kehidupan yang kuat. Perbedaan pilihan tidaklah menyebabkan masyarakat terbelah, tetapi perbedaan membawa masyarakat menjadi cerdas dan arif sehingga perbedaan itulah yang menjadi pemersatu terhadap tantangan yang lebih besar.

Dalam percaturan politik bangsa diawal kemerdekaan, tokoh tokoh minangkabau juga memegang peranan penting dalam membangun dinamika demokrasi. Tan Malaka membawa perubahan dengan Partai Murba yang beraliran nasionalis revolusioner, Sutan Syahrir yang berpaham sosialis dan Muhammad Natsir yang beraliran Islam, dan banyak tokoh lain lagi dengan paham politik yang beragam. Masyarakat minangkabau memaknai perbedaan ini sebagai sebuah alat perjuangan untuk Indonesia Merdeka dan mengisi kemerdekaan yang didapatkan dengan perjuangan yang mengorbankan segalanya. Sehingga kedewasaan berpolitik inilah yang membuat masyarakat minangkabau selalu eksis dalam setiap pertukaran rezim yang berkuasa.

Zaman bertukar musim berganti, Revolusi Industri 4.0 atau zaman milenial ini, akankan peradaban masa lalu yang gemilang itu akan diwarisi oleh generasi saat ini ? apakah generasi minangkabau yang cerdas dan mumpuni dalam menyikapi perbedaan itu akan bisa bertahan sehingga perbedaan pilihan akan mampu menjadi alat pemersatu untuk memajukan daerah dan bangsa ?ataukah peradaban minang akan tercerabut dari akar budayanya ? tentu semua terpulang kepada masyarakat minangkabau yang beradab tinggi itu…
Semoga berbagai kompetisi dalam menjalankan sistem demokrasi mampu menyatukan semua komponen dan kekuatan serta mengumpulkan semua potensi yang selama ini diabaikan, untuk kemajuan kampung halaman..
Selamat berbeda pilihan, tetapi tujuan yang sama untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakat yang kita cintai.

Tinggalkan komentar