MANAJEMEN TERPADU UNTUK MEMBENTUK GENERASI TERBAIK

admin

Oleh : Mang Kacak Koto

Kehidupan sosial masyarakat dilihat dari waktu ke waktu pasti mengalami perubahan, tetapi harmoni dan kerukunan dapat terus dipertahankan oleh masyarakat Minangkabau. kunci keselarasan tatanan kemasyarakatan itu mampu dipertahankan karena menganut filosofi kehidupan yang telah diwarisi sejak masa lalu. Kesatuan antara ajaran Islam dan ajaran adat berjalin berkulindan yang tidak bisa dipisahkan. Sebagaimana yang telah disepakati oleh Tokoh Islam dan tokoh adat dalam perjanjian Bukit Marapalam, Adat basandi syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, Syara’ mangato Adat Mamakai. Kesepakatan ini cikal bakal dan perekat dalam membangun masyarakat yang berperadaban.

“Tali tigo sapilin, tigo tungku sajarangan” merupakan pembagian tugas antara ninik mamak, alim ulama dan cadiak pandai. Kekuatan ini terintegrasi dengan baik, yang hari ini dikenal dengan managemen terpadu. Managemen terpadu adalah sebuah sistem dan proses organisasi dalam satu kerangka lengkap, yang memungkinkan organisasi untuk bekerja sebagai satu kesatuan dengan tujuan terpadu atau terintegrasi.

Masjid tempat konsolidasi ulama dengan ummat, balerong menata kaum oleh ninik mamak, sedangkan cerdik pandai menata masyarakat dalam gedung pemerintahan.

Pemangku adat, ninik mamak atau penghulu adalah sebuah amanah yang akan di emban dengan ajaran adat yang luhur dan penuh kearifan. Ulama, malin, pandito,dan labai akan berbuat untuk mengatur ummat demi tercapainya baldatun tayyibatun warabbur ghafur, sedangkan cerdik pandai melalui kebijakan politik akan mengantarkan masyarakatnya menjadi masyarakat yang adil dan makmur.

Bundo kanduang “Limpapeh rumah nan gadang, ambun puruik pagangan kunci, pusek jalo kumpulan tali, hiasan didalam kampuang, sumarak dalam nagari, terintegrasi juga dengan kokoh sebagai bagian yang memegang fungsi penting dalam melahirkan generasi yang berkualitas, generasi pilihan yang akan melanjutkan cita cita ummat dan bangsa.

Rang mudo mengambil peran penting sebagai penerima tongkat estafet kemajuan untuk masa datang. Ajaran adat mengatakan Rang mudo adalah parik paga dalam nagari, bungo nan kambang dalam kampuang, sumarak koto jo nagari, nan capek kaki ringan tangan, capek kaki indak panaruang, ringan tangan indak pamacah, ciek dikakok duo jadi, aso tarantang duo sudah, alun disuruah nyo lah paham, alun ditagah lah baranti,pagaran kokoh koto jo nagari.

Sistem managemen terpadu ini telah dilakukan oleh minangkabau sebelum orang lain kenal dengan konsep ini, minangkabau menjadi pencetus managemen moderen yang ada sekarang. Generasi milineal wajib mengenali dan membanggakan warisan yang sangat fundamental ini, sehingga generasi hari ini tidak kehilangan kepercayaan diri bahwa mereka mempunyai peradaban yang tinggi…tentu saja kepercayaan diri itu akan lahir bagi generasi sekarang, apabila orang tua dan generasi diatasnya memberikan keteladanan, karena satu keteladanan, lebih berarti dari seribu kata kata.

Kejayaan masa lalu orang Minang itu hendaknya diteruskan oleh generasi muda Minang hari ini, dengan politik cerdas dan santun, “Politisi tidak bisa dibikin. Politisi lahir dari diri, kualitas dirinya dan menjadi teladan dalam kehidupan. Orang Minang itu bukan tipe followers, tapi adalah leaders dan transformers. Bukan orang yang hanya ikut arus, tapi adalah menjadi pemimpin di setiap tingkatan masyarakat, kita jadikan demokrasi saat ini sehingga mampu mengakomodir orang-orang yang hebat, bukan orang-orang yang menjadi pemimpin karena pencitraan, karena politik uang dan politik yang merusak tatanan masyarakat. Untuk itu butuh kehati hatian dalam memilih pemimpin, agar pemimpin menjadi problem solving dari kondisi saat ini. Bukan melahirkan masalah baru yang membuat kusut masai masyarakatnya.

Tinggalkan komentar