Abdullah khairul fattah : hidup dalam kematian

admin

Pernah dengar nama Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah? Atau nama pena beliau Hamka? Ya beliau salah satu ulama, Tokoh Masyarakat asal Minangkabau yang sangat phenomenal, bahkan sampai saat ini, masih banyak dibicarakan ummat manusia khususnya Masyarakat Minangkabau. Buya Hamka begitu masyarakat memanggilnya. Kurang lebih 30 tahun sudah beliau meninggalkan dunia fana ini, namun beliau seakan masih hidup dihati masyarakat yang mengenalnya begitupun bagi yang hanya mendengar dan membaca karyanya. Tak ada yang meragukan lagi, kehadirannya ditengah-tengah masyarakat mampu menjadi uswah/contoh bagi banyak generasi muda dan generasi seusianya. Segala sesuatu yang beliau lakukan menjadi catatan dan pegangan tersendiri didalam kehidupan. Nyaris tak ada coretan buruk atau negatif yang beliau tinggalkan, namanya harum didunia dan hidup dihati masyarakat yang mengenal dan mengetahui karya-karyanya. Mari kita kirimkan Al-Fatihah buat beliau disana.

Nabi Allah, Nabi Muhammad SAW. Kurang lebih 1400 tahun sudah meninggalkan kita semua, namun Beliau masih hidup disetiap hati ummat Islam didunia, tidak hanya itu, bahkan syafaat beliau sangat diharapkan untuk dapat meringankan dosa yang telah kita buat, untuk dapat diakui menjadi bagian dari ummatnya, untuk dapat menikmati syurga yang Allah janjikan. Setiap kelahiran dan kematian ummat Islam pasti bersaksi atas namanya, Setiap melakukan ritual ibadah pasti bersaksi atas namanya dan masih banyak lagi yang lainnya. Walaupun lahir dalam kondisi yatim, kemudian usia 6 tahun sudah yatim piatu tapi mampu mengubah tatanan dunia, mampu mengubah kehidupan masyarakat, mampu membuat seseorang lebih mencintainya dari pada diri sendiri. Begitulah Beliau Nabi Muhammad SAW sang pemilik Akhlak yang Agung, Pemimpin terbaik di Dunia. Pemimpin yang di rindukan oleh seluruh ummat Islam dunia.

Rasulullah Muhammad SAW dan Buya Hamka adalah contoh yang sungguh amat sangat baik buat kita. Tentunya masih banyak contoh yang lainnya, baik dari para Sahabat Nabi dan Para ulama-ulama yang telah mendahului kita. Jangan sampai Fir’aun, Kemal at tartuk menjadi contoh buat kita atau Qorun yang sombongnya karena memiliki banyak harta. Cukuplah mereka menjadi contoh keburukan dari generasi ke generasi kita. Menjadi contoh yang sangat tidak baik untuk ditiru, menjadi contoh untuk kita supaya bisa mengambil pelajaran darinya. Lantas apakah yang harus kita lakukan sehingga kita bisa hidup dalam kematian, Sehingga kita bisa dikenang sebagai insan yang kehadirannya sangat dibanggakan dan kehilangannya sangat tidak diharapkan? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan :

1. Bangun citra diri dengan baik / Akhlak

Dalam hal ini, kita harus memulai sesuatu dengan cara yang baik, istiqomah didalam prosesnya. Tonjolkan sesuatu yang kita miliki dari diri kita dan konsisten dengan hal itu. Hal yang paling mudah dilihat manusia adalah Akhlak. Akhlak memiliki beberapa sifat, sifat yang mana yang bisa kita tonjolkan, apakah Amanah yang disematkan kepada Rasulullah SAW. Sifat jujur yang disematkan kepada Abu Bakar atau Sifat tepat waktu dalam pertemuan yang disematkan pada Bung Hatta Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Pilihan ada ditangan kita mau dikenang seperti apa diri kita oleh masyarakat luas. Hal yang perlu di ingat selalu ada kritik dalam setiap komitmen dan keteguhan hati namun semuanya kembali kepada diri sendiri.

2. Akhiri Karir dengan Bijak

Karir dipandang sebagai suatu proses belajar dan pengembangan diri yang berkesinambungan dan berkepanjangan. Semakin banyak pengalaman yang telah didapatkan dalam dunia kerja dan dalam kehidupan, semakin lengkap jalur karir unik yang dapat dibangun juga dikembangkan. Seluruh pengalaman kehidupan, baik itu merupakan pekerjaan yang dibayar, kegiatan olah raga maupun pengaturan rumah tangga sekalipun, dapat digunakan sebagai bukti kepada calon pemberi kerja bahwa kita adalah sosok yang paling tepat untuk pekerjaan tersebut.

Dalam hal ini tentulah kita harus berusaha melakukan yang terbaik, berkepribadian yang baik didalam lingkungan pekerjaan kita. Sehingga kita bisa dikenal dan diingat untuk masa depan dimana kita sudah meninggalkan pekerjaan tersebut. Cara yang bijak dalam meninggalkan pekerjaan adalah ketika tempat dimana kita bekerja itu sudah berada diatas kejayaan dengan hal-hal yang sudah kita lakukan. Jangan pernah meninggalkan pekerjaan dikala perusahaan tempat kita bekerja sedang dalam kesulitan. Karena itu cara yang buruk dalam mengakhiri karir.

3. Tinggalkan Karya yang bermanfaat

Ada sebuah pepatah yang mengatakan “harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati meninggalkan nama. Dan satu lagi ada yang mengatakan “apalah arti sebuah nama?”.

Pepatah tersebut haruslah segera direvisi karena mengandung makna yang tidak bermakna. Saya mengatakan yang benar adalah “Harimau mati meninggalkan kulit yang mahal, gajah mati meninggalkan gading yang berharga, dan manusia mati meninggalkan karya” Mengapa harus seperti itu?

Karena jikalau manusia hanya meninggalkan nama, apa manfaatnya bagi kita semua selaku manusia? Bukankah kita ingin bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan Negara. Sumbangkanlah sebuah karya yang bisa digunakan dalam kehidupan ini, seperti : innovasi baru, buku – buku, lukisan, artefak, album, lagu, aplikasi, perusahaan, organisasi, dll. Manfaat dari karya selain berguna untuk bangsa dan Negara adalah kita mendapatkan pahala jariyah yang terus mengalir yang dapat menghantarkan manusia ke surga. Sabda Nabi Saw : “Amalan yang tidak akan putus sampai hari kiamat adalah :

1. Ilmu yang bermanfaat.

2. Anak sholeh yang mendo’akan kedua orang tuanya.

3. Amalan jariyah.

Untuk itu dari sekarang, marilah kita pikirkan untuk membuat sebuah karya yang tidak bisa hilang dan bermanfaat bagi Indonesia maupun dunia ini.

Akhir kata, Membina dan berkarya hanya semata-mata beribadah kepada Allah SWT. Ajaklah selalu dalam kesabaran, karena kesabaran selalu berakhir dengan kebahagian. Ajaklah untuk selalu berkata baik dan benar karena kebenaran selalu mendatangkan kebaikan. Ajaklah untuk selalu saling menyayangi karena saling menyanyangi selalu mendatangkan kedamaian. Wa tawaa show bil haqqi, wa tawaa show bis shobri, wa tawaa show bil marhamah. Wallahu ‘alam.

Tinggalkan komentar