Kampung MATFA Mengajarkan Arti ke Kitaan dalam ke Mandirian

admin

Tentu sudah banyak yang kenal dengan Kampung MATFA. MATFA sendiri adalah singkatan dari Majelis Taklim Fardhu ‘Ain lebih dikenal dengan MATFA Indonesia. Terletak di Dusun Bukit Tua, Kelurahan Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Selain dikenal dengan Kampung MATFA dikenal juga dengan Kampung Darussalam karena berada diantara perbukitan RT 03 Darussalam lebih kurang 73 km perjalanan darat dari Kota Medan, ibukota Provinsi Sumatera Utara.

Kampung ini memiliki luas 21 Hektar dengan jumlah penduduk 1100 Jiwa dan 270 Kepala Keluarga. Dari 21 ha luas lahan tersebut 7 ha digunakan untuk kegiatan ekonomi, sementara sisanya untuk fasilitas umum dan rumah warga yang biasa mereka sebut barak dengan ukuran 4 X 10 Meter. Fasilitas umum yang mereka milikipun lengkap dari Masjid, Sekolah dari TK-Aliyah/SMA, Klinik kesehatan dan Baitul Mal/Bank serta dapur umum untuk kebutuhan makan masyarakat didalamnya. Dapur umum dikelolah oleh 30 Ibu-ibu setiap sesinya untuk menyediakan makanan bagi seluruh masyarakat yang tinggal disana untuk 3 kali sehari.

Kegiatan usaha yang mereka jalankan berupa pertanian, perikanan dan peternakan (kambing, ayam broiler dan ayam kampung), selain itu mereka juga ada usaha perdagangan, UKM, industri rumah tangga, pasar rakyat, jasa hingga pengelolaan Air RO merk Hanicha. Karenanya kampung ini dikenal juga dengan Kampung Mandiri.

Selain itu mereka juga memiliki Organisasi penggerak ekonomi kemandirian Kampung yakni, mengelola Poktan Perkasa (bidang pertanian holtikultura dan klinik hayati), KSU Darussalam Makmur Sejahtera, Pokdakan Perikanan Matfa Indonesia, Yayasan Tuwan Imam (khusus bidang sosial, pemerdayaan dan pembangunan masyarakat desa), CV Perkasa Matfa-I meliputi bidang depot air RO, Yayasan Pembangunan-II, khusus bidang pendidikan tingkat Paud sampai Aliyyah (SLTA). Pendidikan pun gratis hanya diminta bayar uang seragam saja itupun hanya 50% dari nilainya. Guru selain dari dalam kampung sendiri juga dibantu dari departemen agama.

Apa yang menjadi landasan kuat hingga mereka bisa bersatu bersama dalam sebuah kebersamaan yang luar biasa? Jawabannya ada pada seorang figure yang selama ini menjadi panutan bagi masyarakat sekitarnya. Beliau adalah KH Khalifah Syech Ali Mas’ud yang akrab disapa Tuan Guru wafat 13 November 2011 dikenal pada masa itu menyampaikan ilmu hakikat pada ribuan jamaahnya selama 43 tahun. Setelah beliau wafat maka datanglah 6 Kepala Keluarga untuk meminta salah seorang anaknya melanjutkan apa yang sudah ayahandanya lakukan untuk tetap mengajarkan ilmu dan memimpin mereka.

Maka didaulatlah anaknya Muhammad Hanafi putra Ke-7 dari 10 Bersaudara menjadi pimpinan selanjutnya. Karena usia yang masih muda waktu itu masih 23 tahun maka diajukanlah 9 syarat kepada mereka yakni :

1. Patuh dan taat kepada pemimpin

2. Cinta kepada alam dan manusia

3. Wajib mengerjakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala laranganNya

4. Menciptakan kebersamaan mutlak,

5. Tidak boleh bertikai

6. Terapkan, amalkan dan ajarkan ilmu sesuai bakat kemampuan yang ada

7. Sebagai suami wajib melindungi keluarganya ,menjauhkan keluarganya dari Api Neraka,

8. Istri cinta keluarga

9. Anak cinta kepada kedua orangtuanya.

Diterimanya syarat tersebut maka dibentuklah nama Kampung MATFA Indonesia yang hingga saat ini sudah berjalan 9 tahun dari pendiriannya tahun 2012, yang tinggal disini tidak hanya masyarakat yang berasal dari kampung tersebut tapi juga dari berbagai daerah dan mancanegara.

Dengan mempraktekan Ilmu Hakikat, didasari kecintaan sesama manusia dan dasar Agama Islam membuat kampung ini dikenal juga dengan Kampung kasih Sayang, bahkan masyarakat tidak boleh bila tidak menyapa lebih 3 hari, bisa dikenakan sanksi atau hukuman yang berlaku.

Begitulah kehidupan mereka yang mengedepankan kehidupan bersosial dengan dasar agama, sebagaimana HOS Cokroaminoto sampaikan “Sosialisme hanyalah bisa menjadi sempurna apabila tiap-tiap manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri saja sebagai binatang atau burung, tetapi hidup untuk keperluan masyarakat bersama, karena segala apa saja yang ada hanyalah berasal atau dijadikan oleh satu kekuatan atau satu kekuasaan, ialah Allah Yang Maha Kuasa”.

Melihat kenyataan seperti ini, maka sudah saatnya kita belajar, membaca dan membuang ego kita demi kemaslahatan bersama. Jika mereka bisa kenapa kita tidak bisa, Kampung ini sudah bisa menjadi contoh untuk kita bagaimana membangun kampung-kampung yang lainnya.

Semua bisa dilakukan bila kebersamaan dan kasih sayang diantara kita di perdalam dengan membuang sifat keakuan dan ego masing-masing.

Semua bisa dilakukan bila tujuan kita murni untuk memperbaiki keadaan. Semua bisa dilakukan bila semua memahami tujuan kehidupan dan kelebihan masing-masing sebagai mahkluk ciptaan Tuhan.

Semua bisa dilakukan bila kita sadar akan pentingnya hidup dalam kebersamaan tanpa memandang status dan jabatan.

Semua bisa dilakukan bila kita sadar suatu saat akan kembali kepada-Nya dan mempertanggung jawabkan semua perbuatan.

“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (H.R. Bukhari) kuncinya adalah ikhlas. Mengutamakan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi. Membiasakan diri untuk melandasi semua tindakan dengan kasih dan sayang. Kalau kita hidup hanya mengutamakan harta benda dan kekuasaan, maka ketidakadilan sosial akan terus terjadi. Kalau manusia hanya memikirkan harta kekayaan, maka kita akan dipecah belah dan dikotak-kotakkan seperti yang terjadi ini, Islam mengajarkan penganutnya agar menjalin hubungan. “Hablumminallah dan Hablumminannas”. Kita diajarkan menjaga dua hubungan, hubungan antara manusia dan Allah dan Hubungan antara sesama manusia. Jagalah kedua hubungan itu semoga keberkahan selalu menyertai kita semua. Aamiin

Tinggalkan komentar