Wahyudi Asri.S.Pd : ADAT BASANDI SYARA’ DALAM PERSPEKTIF PILWANAG

admin

Perkembangan masyarakat Minangkabau dari masa kemasa selalu diwarnai oleh berbagai macam kondisi sosial, semua ini mampu dilewati dengan sukses bagi masyarakat minangkabau. Perang Paderi yang diawali dengan pertentangan antara kaum adat dan kaum agama, yang merupakan perbedaan idiologi kedua tokoh yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat dimasa itu, mampu disatukan dan terselamatkan dari politik Devide It Impera nya penjajah. Soliditas dan kekompakan kedua kaum tadi membuat penjajah Belanda kocar kacir di Ranah Minang, pemersatu itu adalah sebuah warisan intelektual dan kultural yaitunya sebuah kesepakatan yang kuatkan dengan sebuah sumpah yang dikenal dengan Sumpah Sakti Bukit Marapalam, yang berbunyi “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”


Gelombang pemikiran di awal abad 19 antara kaum tua dan kaum muda, yang hampir saja mencapai klimaksnya, konflik sosial ini juga mampu diselamatkan, penghulu dimasing masing suku mampu memberikan pencerahan kepada kaumnya, sehingga pemikiran yang berbeda itu hanya sampai kepada sebuah “perang” pemikiran tidak berakibat terhadap ummat dikalangan bawah yang bermuara kepada pecahnya sendi sendi kehidupan.
Di masa awal kemerdekaan dan setelah kemerdekaan, masyarakat Minangkabau memegang peran strategis dalam menyusun program bangsa ini, Tan Malaka, Agus Salim, Muhammad Yamin, Sutan Syahrir, M Natsir dan Buya Hamka, Mr.Assad, dan banyak tokoh lainnya, apabila dicermati Tokoh Bangsa tersebut berbeda paham politik, berbeda idiologi yang mereka anut, tetapi karena mereka dididik di surau dan di Rumah Gadang yang memahami ajaran yang di istilahkan dengan “basilang kayu dalam tungku, disinan api makonyo hiduik”.

Sejarah telah mengungkapkan dengan jelas, tidak satupun diantara tokoh tersebut yang menjadikan kepentingan kelompok dan paham politik yang mereka perjuangkan, untuk merusak tatanan masyarakat Minangkabau, Dalam rapat Konstituante para tokoh tersebut bisa berbeda cara pandang dan tujuan, tetapi ketika sidang ditutup, perbedaan paham dianggap selesai, barisan dirapatkan kembali. Ukhuwah islamiyah dan persatuan tetap dipertahankan sebagai warisan leluhur yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.

Zaman terus berubah, demokrasi sebagai pilihan bangsa yang terus beranjak menuju penyempurnaan. Masyarakat minangkabau, tentu saja wajib mempertahankan kearifan lokal yang telah terbukti dalam berbagai masa. Pilwanag yang sarat dengan berbagai kepentingan dan intrik politik lokal, haruslah dimaknai sebagai sebuah proses demokrasi yang mendidik dan mencerahkan bagi masyarakat. Perbedaan pilihan, hanyalah sebagai perbedaan cara pandang dalam menentukan pilihan, sesuai dengan kepentingan masing masing pemilih dan kelompok, Adagium ” Adat Basandi Syara’ ,Syara’ Basandi Kitabullah” jadi lem perekat dalam perbedaan, sehingga masyarakat mampu menentukan pilihan untuk kemajuan nagarinya dengan pikiran cerdas dan pertimbangan yang matang. Apabila kepentingan jangka panjang, dan kepentingan masyarakat dan ummat yang lebih diutamakan, tentu saja proses demokrasi pemilihan wali nagari ini akan menjadi pesta demokrasi, yang akan melahirkan harapan baru bagi masyarakat terhadap kemajuan kehidupan dimasa depan.

Toleransi masyarakat dalam menyikapi perbedaan telah teruji oleh waktu dan zaman. Pengaruh tokoh dan stakeholder sangatlah penting dalam menyikapi setiap gejolak yang muncul dimasyarakat. Kecerdasan dan kearifan pemilih, diawali dengan keteladanan dari tokoh tokoh yang ikut dalam konstelasi, Satu keteladanan lebih baik dari seribu kata kata, jangan kita korbankan harmoni yang sudah dirajut dengan indah, hanya karena kepentingan pribadi dan golongan, lahirkan dan realisasikan pilwanag mendidik dan mencerahkan, Menjadikan nagari menjadi daerah yang maju dan memakmurkan masyarakatnya.

Untuk menjalankan ajaran adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, maka wajib mengetahui ajaran al Qur’an dan Sunnah, karena ajaran kitab suci inilah yang menjadi bahan bakar untuk menghidupkan lampu penerang ummat, Lampu agama inilah yang menuntun kehidupan masyarakat, mana lampu merah yang wajib berhenti karena dilarang Allah Ta’ala dan Rasulullah, mana lampu kuning dimana ummat wajib berhati hati, dan mana lampu hijau sebagai pertanda boleh dilakukan.

Adat basandi syara’ , syara’ basandi kitabullah, Syara’ mangato, adat mamakai, akan bisa di manifestasikan dalam kehidupan, apabila pemimpin dan ummat itu menjadikan Islam sebagai sistem hidup, sistem berfikir dan sistem bertindak. Masjid dan surau akan ramai, Budi pekerti, moral dan etika akan tinggi, maksiat akan menjauh, masyarakat akan sejahtera karena zakat wakaf dan infak akan disalurkan sesuai dengan tuntunan agama, Rahmat Allah akan turun ke bumi, Barulah cita cita Baldatun Thaiyyibatun Warabbun Ghafur akan bisa dicapai.

Tinggalkan komentar