Budaya alam minangkabau : MAKNA ALAM TAKAMBANG JADI GURU

admin

Padang : (30/5) Adaik Basandi Syara’,Syara’ Basandi Kitabullah,Syara’ Mangato Adaik Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru. Itulah falsafah urang Minangkabau yang sangat istimewa. Selama ini banyak pembahasan mengenai ABS SBK,SM AM,namun sangat jarang orang memaparkan makna dari Alam Takambang Jadi Guru, padahal ini sangat erat kaitannya dengan ABS SBK,SM AM, bahkan selalu berhubungan.

Alam takambang jadi guru merupakan pepatah yang berasal dari Minangkabau. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ” alam terkembang dijadikan guru “. Pepatah ini bermakna supaya kita bisa belajar dari fenomena alam dan mengambil makna dari fenomena alam tersebut.

Disinilah keistimewaan urang minangkabau dengan mempelajari itu semua sejak nenek moyang mereka, jauh sebelum Islam masuk kenegeri tercinta ini mereka belajar dari keadaan alam semesta yg telah Allah ciptakan untuk seluruh makhluk dijagad raya ini dan sebagai khalifah dibumi Allah, sehingga ketika Islam masuk kenegeri Minangkabau nenek moyang kita dengan mudah menerimanya sebagai satu2nya agama yg dianut oleh urang Minangkabau.

Minangkabau bukan hanya sebagai tempat hidup dan mati, bukan hanya tempat hidup dan berkembang, tetapi minangkabau juga memiliki makna filosofis. Seperti yang ada dalam ungkapan pepatah minangkabau “alam takambang jadi guru”. Alam memiliki makna yang mendalam dengan segala bentuk, sifat, serta segala yang terjadi di dalamnya, merupakan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai pedoman, ajaran, dan guru.

Orang Minang atau umat manusia pada umumnya harus bisa belajar dari segala kejadian dan fenomena yang ada di alam. Umat manusia haruslah dinamis dan bisa menyesuaikan serta mengembangkan dirinya di mana pun ia berada, baik di tanah asal atau pun di tanah rantau. Umat manusia dituntut untuk bisa selaras dengan alam dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. (Peribahasa ini merupakan induk dari ribuan peribahasa Minang lainnya)

Adat Minangkabau yang dinamis, menempatkan raso (hati, kearifan, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika), sebagai hasil dari falsafah, “alam takambang jadi guru.”Artinya, adat Minangkabau mengandung unsur adat dan ilmu.

Belajar kepada alam berarti mengambil pelajaran dari perjalanan hidup. Dalam pengertian hukum, adat adalah pedoman atau patokan dalam bertingkah laku, bersikap, berbicara, bergaul, dan berpakaian..

Adat atau norma telah berjalan lama sekali dan turun temurun disebut tradisi, adalah tata cara memelihara hubungan baik antar sesama.

Alam sebagai ajaran dan pandangan hidup kata-kata yang menjadi pedoman hidup bagi manusia dalam berbaut, bertindak, dan berprilaku. Dalam minangkabau pun begitu, mereka membuat segala bentuk pepatah-petitih dan mamangan berdasarkan kehidupan yang ada di alam semesta ini. Hal tersebut lalu dijadikan sebagai aturan, hukum, dan ketentuan adat. Mereka menerapkan semua itu dalam kehidupan sehari-hari. Hal itulah yang dinamakan ajaran minangkabau.

Dalam kata pusaka minangkabau telah diungkapkan, bahwa.

Panakiak pisau sirauik,

Ambiak galah batan lintabuang,

Silodang ambiak ka nyiru

Satitiak jadikan lawik

Sakapa jadikan gunuang

Alam takambang jadi guru

Pada dasarnya, alam memiliki dua sifat yang paling mendasar. Pertama, bersifat tetap, artinya alam tidak pernah berubah sejak dulu sampai kini. Semua hal yang tidak berubah itu dijadikan masyarakat minangkabau sebagai dasar atau landasan hukum dan rumusan adat. Landasan itu disebut “adat babuhua mati”. Kedua, bersifat tidak tetap artinya alam dapat berubah-berubah sesuai dengan kodratnya. Semua itu disebabkan oleh keadaan, situasi dan cuaca. Sifat ini juga dijadikan oleh orang minangkabau sebagai rumusan membuat adat, yang disebut dengan “adat babuhua sintak”.

Kedua hal ini dijadikan sebagai falsafah “alam takambang jadi guru”.

Alam merupakan tempat hidup dan sumber kehidupan manusia. Maka dari itu manusia haruslah memanfaatkan alam dengan seoptimal mungkin. Semua yang terdapat di Alam ini, memiliki kegunaannya masing-masing serta memiliki makna penciptaannya.

Nan lunak ditanam baniah

Nan kareh dibuek ladang

Nan bancah palapeh itiak

Ganangan ka tabek ikan

Bukik batu ka tambang ameh

Padang laweh bakeh taranak

Ka rimbo babungo kayu

Ka sungai babungo pasia

Ka lawik babungo karang

Ka sawah babungo padi

Ka tambang babungo ameh

Informasi apa yang didapatkan dari kata pusaka tersebut?. Ternyata orang minangkabau terdahulu tidak hanya mengenal dunia agraris saja, tetapi juga telah mengenal pertambangan. Alam mereka jadikan sebagai landasan untuk merumuskan dan menyusun ajaran adat. Kemudian mereka menjadikan alam sebagai sumber hidup dan kehidupan mereka. Apapun yang diberikan alam, mereka jadikan sebagai sumber kesejahteraan sumber daya alam. Memanfaat pemberian alam untuk memenuhi semua kebutuhan mereka.

Selama ini kita ketahui Falsafah hidup urang Minangkabau tidak beranjak dari seputar agama Islam yg menjadi pedoman hidup urang minang,dengan bertumpu kepada Al Qur’an dan sunah Rasul,dan seperti kita ketahui begitu banyak ayat2 dalam Al Qur’an yang menyebutkan keberadaan alam semesta yang telah Allah SWT ciptakan,sejak awal kejadian alam raya ini berlangsung sampai akhir jaman kehidupan alam semesta raya ini.

[ Q. S. Fushshilat : 53 ]

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Dengan mempelajari gerak gerik alam semesta kita dapat belajar didalamnya dan akan semakin tau bagaimana besarnya kekuasaan Ilahi.Demikianlah arti alam bagi orang minangkabau.

Diambil dari berbagai sumber.

“Aku Bangga Menjadi Anak Minangkabau”

(Herlina Hasan Basri)

Tinggalkan komentar