Pondok Pesantren Ma’had Al-Zaytun di Mata Alumni

admin

Padang : (24/5) Maraknya berita tentang Pondok Pesantren Ma’had Al-Zaytun yang terletak di Indramayu Jawa Barat akhir-akhir ini menimbulkan pro dan kontra yang tidak pernah habis dikalangan masyarakat. Hal ini tentu berimbas juga kepada Alumni Al-Zaytun yang sudah menyelesaikan study selama mondok disana.

Di era digitalisasi ini begitu mudah informasi menyebar secara cepat dan massif, antara berita benar dan bohongpun semakin sulit dibedakan. Akibatnya muncul berbagai argument dan pertanyaan yang  ditujukan kepada individu-individu yang pernah mengeyam pendidikan disana. Pertanyaan dan argumenpun beraneka ragam, ada yang hanya sekedar bertanya karena penasaran dan  hanya ingin sebuah jawaban, ada juga berupa perkataan yang memvonis menyesaatkan. Padahal kesemuanya itu belum kita pahami kebenaran.

Alumni Al-zaytun menjadi sasaran dari pertanyaan dan perkataan yang dilontarkan oleh masyarakat, baik dari kalangan keluarga sendiri, teman pekerjaan hingga lingkungan masyarakat dimana ia tinggal. Biasanya muncul pertanyaan seperti : Ada apa dengan Al-Zaytun? Benar ngak sich sekarang Al-Zaytun seperti itu. Dan banyak pertanyaan lainnya yang dilontarkan, bahkan ada juga yang langsung mengatakan “ oh dia itu alumni Al-zaytun, Al-Zaytun kan sesat”.

Hal inilah yang dialami oleh beberapa Alumni Al-Zaytun. Senada yang di katakan oleh Rocki, Salah satu Alumni AL-Zaytun angkatan 4 yang lulus dari sana tahun 2008 terkait pengalamannya selama mondok disana.

“ Saya masuk ke sana tahun 2002, nganggur dulu 1 tahun untuk menghafal juz 30 karena saya lulus SD tahun 2001 belum hafal juz 30 dan Juz 30 salah satu syarat masuk yang akan dites jika ingin masuk kesana. Selama dalam pendidikan semua sama, pelajaran agama tidak ada yang melenceng, begitupun yang diajarkan para guru tidak ada yang melenceng. Walaupun saya menyadari setelah keluar ilmu agama saya sangat minim tidak sedalam yang di dapat di pondok pondok lainnya yang dikenal bagus pemahaman agama-agama berdasarkan tafsir dan dalil-dalinya”.  Mungkin karena waktu itu hanya belajar pelajaran dari kemenag saja ditambah dengan belajar Kitab Bulughul Maram. Tambahnya.

Namun ada perasaan sangat bersyukur bisa sekolah disana, dipertemukan dengan seluruh sahabat yang berasal dari semua provinsi di Indonesia dan beberapa Negara seperti Negara Malaysia, Singapura dan Afrika Selatan. Itu adalah hal yang luar biasa yang saya dapati bisa berkenal dan dekat dengan mereka semua. Sehingga ketika mau pergi kemanapun ada sahabat yang bisa dikunjungi. Imbuhnya.

Terkait informasi tentang Pondok Al-Zaytun yang saat ini menjadi perbincangan khalayak ramai karena kontroversi yang ada sangat ia sayangkan,

“Terus terang setelah lulus dari sana saya tidak tahu lagi perkembangannya seperti apa. Adapun yang di perbincangkan saaat ini tidak pernah kami alami selama disana. Namun saya memahami kepemimpinan disana itu one man show karena kebijakan dan hal apapun harus dari Syakh Panji Gumilang. Terkait hal-hal baru yang beliau lontarkan tidak disampaikan dasar dalil Qur’an dan Hadist yang digunakan. Waktu itu sebagai santri kami memang tidak memperhatikan tentang hal itu sehingga cuek saja. Baru setelah diluar semuanya nampak berbeda”.

“Harapannya kedepan Pondok Pesantren Ma’had Al-Zaytun tidak membuat Kontroversi lagi yang mana membuat alumni dilema , ditanya macam-macam atas sesuatu yang tidak mereka pahami dan alami serta mendorong pihak terkait untuk melakukan investigasi dan peninjauan lebih dalam terkait berita-berita yang tersebar saat ini. Sehingga tidak menimbulkan keresahan dimata masyarakat Indonesia lagi” Tutup pria yang sehari-hari aktif di dunia Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat

Tinggalkan komentar