Demokrasi, dan kearifan minangkabau

admin

Padang : (24/5) Perkembangan masyarakat Minangkabau dari masa kemasa selalu diwarnai oleh berbagai macam kondisi sosial, semua ini mampu dilewati dengan sukses bagi masyarakat minangkabau. Perang Paderi yang diawali dengan pertentangan antara kaum adat dan kaum agama, yang merupakan perbedaan idiologi kedua tokoh yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat dimasa itu, mampu disatukan dan terselamatkan dari politik Devide It Impera nya penjajah.

Soliditas dan kekompakan kedua kaum tadi membuat penjajah Belanda kocar kacir di Ranah Minang, pemersatu itu adalah sebuah warisan intelektual dan cultural yaitunya sebuah adagium “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”


Gelombang pemikiran di awal abad 19 antara kaum tua dan kaum muda, yang hampir saja mencapai klimaksnya, konflik sosial ini juga mampu diselamatkan, penghulu dimasing masing suku mampu memberikan pencerahan kepada kaumnya, sehingga pemikiran yang berbeda itu hanya sampai kepada sebuah “perang” pemikiran tidak berakibat terhadap ummat dikalangan bawah yang bermuara kepada pecahnya sendi sendi kehidupan.


Di masa awal kemerdekaan dan setelah kemerdekaan, masyarakat Minangkabau memegang peran strategis dalam menyusun program bangsa ini, Tan Malaka, Agus Salim, Muhammad Yamin, Sutan Syahrir, M Natsir dan Buya Hamka, Mr.Assad, dan banyak tokoh lainnya, apabila dicermati Tokoh Bangsa tersebut berbeda paham politik, berbeda idiologi yang mereka anut, tetapi karena mereka dididik di surau dan di Rumah Gadang yang memahami “basilang kayu dalam tungku disinan api makonyo hiduik” sejarah telah mengukapkan dengan jelas, tidak satupun diantara tokoh tersebut yang menjadikan kepentingan kelompok dan paham politik yang mereka perjuangkan, untuk merusak tatanan masyarakat Minangkabau, Dalam Rapat Konstituante para tokoh tersebut bisa berbeda cara pandang dan tujuan, tetapi ketika sidang ditutup, perbedaan paham dianggap selesai, barisan dirapatkan kembali. Ukhuwah islamiyah dan persatuan tetap dipertahankan sebagai warisan leluhur yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.


Zaman terus berubah, demokrasi sebagai pilihan bangsa yang terus beranjak menuju penyempurnaan, masyarakat minangkabau, tentu saja wajib mempertahankan kearifan lokal yang telah terbukti dalam berbagai masa. Pemilihan presiden dan pemilihan calon legislatif yang sarat dengan berbagai kepentingan dan intrik politik, haruslah dimaknai sebagai sebuah proses demokrasi yang mendidik dan mencerahkan bagi masyarakat, perbedaan pilihan politik hanyalah sebagai perbedaan cara pandang dalam menentukan pilihan, sesuai dengan kepentingan masing masing pemilih dan kelompok.

Adagium ” Adat Basandi Syara’ ,Syara’ Basandi Kitabullah” jadi lem perekat dalam perbedaan, sehingga masyarakat mampu menentukan pilihan untuk kemajuan bangsa dan daerahnya dengan pikiran cerdas dan pertimbangan yang matang. Apabila kepentingan jangka panjang, dan kepentingan masyarakat dan ummat yang lebih diutamakan, tentu saja proses demokrasi lima tahunan ini akan menjadi pesta demokrasi, yang akan melahirkan harapan baru bagi masyarakat terhadap kemajuan kehidupan dimasa depan.


Toleransi masyarakat dalam menyikapi perbedaan telah teruji oleh waktu dan zaman. Pengaruh tokoh dan stakeholder sangatlah penting dalam menyikapi setiap gejolak yang muncul dimasyarakat. Kecerdasan dan kearifan pemilih,diawali dengan keteladanan dari tokoh tokoh yang ikut dalam konstelasi, Satu keteladanan lebih baik dari seribu kata kata, jangan kita korbankan harmoni yang sudah dirajut dengan indah, hanya karena kepentingan pribadi dan golongan,lahirkan dan realisasikan pemilihan umum yang mendidik dan mencerahkan.

Semoga

Tinggalkan komentar